Sejarah Desa Parakan

  1. Legenda Desa Parakan

 

Mengingat Sejarah Desa Parakan identik dengan kehidupan seorang tokoh bernama Simbah Kyai Gorang Gareng, beliau hidup terlunta-lunta, mengembara ( bahasa Jawa narak-narak )  mencari kehidupan yang lebih layak, seperti orang-orang pada umumnya.

Suatu ketika beliau berhenti disebuah hutan, dan beliau hidup sementara dihutan dan membina sebuah rumah tangga, dalam benaknya beliau berpikir, apabila beliau bisa hidup tenang di hutan ini, wilayah ini akan dinamakan Padusunan Parakan, dengan harapan masyarakatnya mampu hidup sejahtera, biso urip kesegeran, biso mangan, tentrem, ayem  lan ora narak-narak

Berdasarkan sejarah yang ada, lurah pertama kali dijaman Belanda adalah Mbah Lurah Parakan, tahun 1923 beliau wafat dilanjutkan kepemimpinan wilayah Parakan oleh Beliau Mbah Lurah Sarjan Wongso Pawiro, dengan dibantu seorang carik bernama Carik Mertodiwiryo, Carik Sastro Burik, sepeninggal mbah Sarjan tahun 1931 dilanjutkan oleh Lurah Kiswodiharjo ( putra Lurah Sarjan ) dengan dibantu oleh seorang carik bernama Carik Sodiwiryo Yahmin, Carik Wiro Sukarto. Lurah Kiswodiharjo adalah Lurah pertama kali yang menjabat melalui pilihan langsung ( Bitingan di masukkan dalam bumbung )

Pada tahun 1973 mbah Lurah Kiswodiharjo wafat, pucuk pimpinan wilayah Parakan dipercayakan kepada Penjabat Sementara ( Pjs ) Mbah Juli,  sampai tahun 1975, beliau adalah seorang anggota Koramil Karangrayung ( Babinsa ) yang mendapat mandat untuk memimpin jalannya roda pemerintahan di Desa Parakan. Kepala Desa Parakan mulai tahun 1975 dijabat resmi oleh Lurah Juli,  melalui pemilihan langsung sampai tahun 1985 berhenti karena meninggal dunia.

Kepala Desa Parakan selanjutnya dijabat oleh  Pjs. Sukardi Bandono, ( Tahun 1985 sampai tahun 1986 ). Beliau adalah Kepala Dusun Bentak, Sukardi Bandono pada waktu itu di bantu oleh Carik Siswadi.

Tahun 1987 dilaksanakan pemilihan Kepala Desa yang dimenangkan oleh Sumarsono ( Cucu Lurah Kiswo Diharjo).

Tahun 1996 Sumarsono Purna tugas karena aturan perda jabatan Kepala Desa hanya 8 ( delapan ) tahun.

Sejak Tahun 1996 sampai tahun 1997, jabatan Kepala Desa Parakan di jabat oleh Carik Siswadi sekaligus Sekretaris Desa Parakan.

Tahun 1997 dilaksanakan Pemilihan Kepala Desa Parakan, yang dimenangkan oleh Yarjo Mustofa ( Putra Harjo Harun ) menjabat sampai tahun 2006.

Pada tahun 2007 dilaksanakan Pilkades yang dimenangkan oleh Giarto ( Putra Cokro Marjono ) dan sampai 27 Maret 2013.

Tanggal 9 Maret 2013 hari Sabtu Pahing dilaksanakan Pilkades secara Demokratis, dengan calon 2 orang kandidat, yaitu Harto dan Giarto.

Dimenangkan oleh Harto ( Putra Pawiro Pojo ) dengan jumlah dukungan suara sah : 961, sedangkan Giarto mendapatkan dukungan suara sah : 476.

 

Jabatan Carik / Sekretaris Desa Parakan dapat sampaikan secara berurutan sebagai berikut :

  1. Carik Merto Diwiryo;
  2. Carik Sastro Burik;
  3. Carik Sodiwiryo Yahmin;
  4. Carik Wiro Sukarto, pada waktu itu dibantu oleh Pembantu Carik Purnomo ( Cucu Lurah Kiswo Diharjo );
  5. Carik Siswadi, diangkat melalui ujian tertulis pada tahun 1984, berdasarkan Undang-Undang No 5 Tahun 1979 berubah nama menjadi Sekretaris Desa Parakan, dan pada Tahun 2008 tepatnya tanggal 1 Desember 2008 dengan No SK. 821.1/1089 XII/2008 resmi diangkat menjadi PNS dengan jabatan yang sama.

 

Untuk Jabatan Kepala Dusun Parakan Krajan ( Kamituwo Parakan ) secara berurutan dijabat oleh:

  1. Merto Wahyo, adalah kamituwo pertama yang menjabat di wilayah Parakan, berakhir atau purna jabatan tahun 1942.
  2. Sastro Wijoyo Supardi yang pada waktu itu lebih dikenal dengan sebutan Mbah Bekel Plorok karena sebelum menjabat Kamituwo beliau adalah Bekel untuk wilayah Dusun Bentak. Karena alasan domisili beliau lebih memilih sebagai Kamituwo daripada Bekel ( sebutan untuk jabatan Kepala Dusun di Dusun luar Krajan ). Beliau menjabat sampai 1946 karena sudah purna tugas.
  3. Wiro Sukarto menjabat dari tahun 1946 sampai tahun 1960 dan diangkat sebagai Carik Parakan oleh Mbah Lurah Kiswodiharjo.
  4. Pojoyo Nadi menjabat mulai tahun 1960 sampai tahun 1970 dan pensiun karena usia.
  5. Hadi Suwadi ( Putra Sastro Wijoyo Supardi ) menjabat sebagai Kamituwo Parakan dari tahun 1971 sampai purna tahun 2011, karena menyesuaikan Undang – Undang No 5 Tahun 1979 tentang Restrukturisasi Jabatan Perangkat Desa, sejak tahun 1988 Kamituwo Parakan berubah jabatan menjadi Kepala Dusun Parakan

 

 

Sedangkan Untuk jabatan Bayan yang pernah ada di Dusun Parakan secara berurutan dijabat oleh:

  1. Bayan Surodiharjo ( Putra Pojoyo Nadi ) purna atas permintaan sendiri dan belum saatnya purna sehingga tidak mendapat upah bengkok pensiunan.
  2. Bayan Cokro Marjono, purna karena diduga terlibat Gerakan terlarang.
  3. Bayan Hadi Suwadi, menjabat bayan selama 4 (empat ) tahun dan diangkat sebagai Kamituwo Parakan oleh mbah Lurah Kiswodiharjo.
  4. Bayan Suwondo, waktu itu dikenal dengan sebutan Bayan Polisi, dan masih menjabat sampai sekarang. karena menyesuaikan Undang – Undang No 5 Tahun 1979 tentang Restrukturisasi Jabatan Perangkat Desa, Bayan Suwondo berubah jabatan sebagai Kaur Pemerintahan dan Keuangan.
  5. Bayan Purjiyo ( Putra Bayan Suwondo ) menjabat sebagai Kepala Urusan Umum dan Kesejahteraan Rakyat, melalui ujian tertulis dipercaya memangku jabatan sejak Januari tahun 2010.

Untuk Jabatan Bekel ( sebutan Kepala Dusun di luar Krajan ) yang pernah ada            di Dusun Parakan yaitu :

 

  1. Bekel Sastro Wijoyo Supardi, oleh beliau mbah Lurah Kiswodiharjo, ditugasi sebagai Bekel di wilayah Dusun Bentak. Karena domisilinya di Dusun Parakan beliau minta untuk menjabat sebagai Kamituwo Parakan menggantikan mbah Merto Wahyo yang sudah purna.

Beliau adalah satu satunya pejabat di Dusun Parakan yang mendapat sebutan Bekel ( Sebutan Kadus diluar Krajan ).

 

Menengok sejarah Dusun selanjutnya adalah Dusun Bentak, dimana pada waktu itu bernama Dusun Ngemplak, sebagai Cikal Bakal sejarah Dusun Bentak tidak lepas dari seorang tokoh bernama Mbah Sombro yang telah meninggalkan sebuah sumur tua dan dikeramatkan warga Dusun Bentak yaitu Sumur mBrumbung.  Dahulu kala beliau hidup sebatang kara, dan terdampar disebuah hutan belantara dan jauh dari padusunan. Dalam benaknya beliau berucap, bila suatu saat daerah ini berpenghuni akan diberi nama Ngemplak, dimana pada waktu itu pedukuhan ini berada di tengah – tengah hutan ( bahasa Jawa Ngentak-entak, adoh lor adoh kidul, gung liwang liwung ora nduwe tonggo dukuh )

Oleh Kepala Desa Parakan yang pada waktu itu dijabat Lurah Juli sekitar tahun 1981 Dusun Ngemplak berubah nama menjadi Dusun Bentak.

 

Susunan Organisasi Tata Kepemerintahan yang ada di Dusun Bentak secara berurutan untuk Jabatan Bekel  ( Kepala Dusun ) dijabat oleh :

  1. Bekel Sastro Sadi, menjabat sampai tahun 1940;
  2. Bekel Sastro Wijoyo Supardi ( Bekel Plorok ) menjabat sampai tahun 1942, dan kembali ke Dusun Parakan menjabat sebagai Kamituwo Parakan;
  3. Bekel Karto Sawiyo ( Putra Bekel Sastro Sadi ) menjabat sampai tahun 1959 karena Purna tugas;
  4. Bekel Somowidjoyo Sadji ( Putra Bayan Mangun Rejo ) menjabat dan pensiun sampai tahun 1984;
  5. Bayan Sukardi Bandono ( Putra Bekel Karto Sawiyo ), atas ijin Kepala Desa Parakan  ( Lurah Juli ) diangkat sebagai Bayan Kuwoso ( Bayan merangkap Bekel ) dan purna karena meninggal dunia tahun 2005.                                                                                                                  Sejak sepeninggal Kadus Sukardi Bandono untuk jabatan Bekel / Kadus Bentak kosong sampai tahun 2009. Roda pemerintahan di kendalikan langsung oleh Kepala Desa Parakan dengan di bantu oleh Ketua RW 02 Mbah Karto Kasim;

 

  1. Bekel Darmoyo ( Cucu Bekel Somowidjoyo Sadji ), terpilih melalui ujian tertulis, dilantik dan memangku jabatan sebagai Bekel / Kepala Dusun Bentak sejak Januari 2010. Sesuai PP No 72 Tahun 2005 Tentang Desa untuk Jabatan Bekel telah dirubah dengan sebutan Kepala Dusun atau disingkat

 

 

Sedangkan untuk Jabatan Bayan ( sebutan sekarang Kaur / Kepala Urusan ) yang pernah ada di Dusun Bentak secara berurutan di jabat oleh :

  1. Bayan Mangun Rejo, lebih di kenal dengan sebutan Mbah Bayan Dongkol, karena tidak dapat naik pangkat menjadi Bekel sampai beliau pensiun dan meninggal pada tahun 1962;
  2. Bayan Somowidjoyo Sadji ( Putra Bayan Mangun Rejo ) menjabat sampai tahun 1959, beliau diangkat menjadi Bekel oleh mbah Lurah Kiswodiharjo;
  3. Bayan Mangil ( Putra Bekel Karto Sawiyo ), meninggal dunia tahun 1971;
  4. Bayan Sukardi Bandono ( Putra Bekel Karto Sawiyo ) menggantikan Kakaknya Bayan Mangil yang telah meninggal dunia, Sukardi Bandono pada tahun 1984 diangkat  menjadi Bekel Bentak  dengan sebutan Bayan Kuwoso oleh Lurah Juli, Bayan Sukardi Bandono juga sempat menduduki jabatan sebagai Pjs Kepala Desa Parakan pada tahun 1985-1986.  

 

Sejarah selanjutnya adalah Dusun Klego, terletak jauh dari pusat Pemerintahan Desa Parakan, secara Geografis letak Dusun Klego diapit oleh bumi dibawah naungan Keraton Surakarta tepatnya Kabupaten Boyolali Kecamatan Juwangi Desa Kayen. Sejarah yang pernah di tuturkan warga setempat, Dusun Klego adalah dusun yang kecil tapi sulit dalam pembinaannya, terbukti dusun yang hanya terdiri dari 2 ( dua ) RT ini sejak Jaman Belanda sering terjadi Pelengseran Pejabat baik jabatan Bekel maupun Bayan. Sejarah Klego tidak lepas dari kisah hidup seorang pengembara  bernama Suwargi Mbah Ro Dipo, sebagai cikal bakal  masyarakat Klego.

Sumber sejarah menyatakan bahwa  Mbah Ro Dipo mempunyai  dua orang anak yaitu Mbah Bangkak dan Mbah Madiyo, keturunan Mbah Ro Dipo sering terjadi cek cok ( sering bertengkar ) dan sukanya menggunjing tetangga.

Suwargi Mbah Ro Dipo dalam benaknya berkata, kapan ono rejane jaman, lan kampung iki ono sing manggoni, kampung iki tak wenehi jeneng Klego, asal kata dari Kelat – kelit nyatur tonggo.

Namun mitos atau sejarah terjadinya dusun tersebut yang pada waktu itu masyarakat sulit diatur, sekarang  sudah berubah, sedikit demi sedikit perilaku masyarakat telah mengalami perubahan seiring dengan perkembangan teknologi dan warga telah sadar menyekolahkan anak-anaknya, sehingga warga sekarang mudah untuk diatur.

Perubahan tersebut dibuktikan bersatunya warga saat pelaksanaan pembangunan Jalan Makadam dan Jembatan di Dusun Klego, dengan semangat prakarsa Swadaya masyarakat dan dana PNPM MP tahun 2009 telah mampu membangun Jalan yang menghubungkan kampung Pungsari yang merupakan sebuah kampung bagian wilayah Dusun Klego, jalan tersebut juga merupakan satu satunya akses menuju Desa Sendangharjo maupun menuju ke Pusat Pemerintahan Kecamatan Karangrayung.

 

Adapun Jabatan Pemerintahan yang pernah ada di Dusun Klego khususnya jabatan Bekel, secara berurutan dapat di jabarkan sebagai berikut :

 

  1. Bekel Codhot, penguasa wilayah pada jaman Belanda dan meninggal dunia pada tahun 1850;
  2. Bekel Maryo, menjabat sampai tahun 1934;
  3. Bekel Soyo, karena faktor kesehatan pada waktu itu rakyat menghendaki Bekel Soyo dipurna tugas dari jabatan Bekel pada tahun 1941;
  4. Bekel Sarkam, berhenti dengan tidak hormat menjabat sampai tahun1949;
  5. Bekel Karto Sarman, berhenti dengan tidak hormat menjabat sampai tahun 1953;
  6. Bekel Suto Diwiryo, menjabat dari tahun 1953 sampai tahun 1958;
  7. Bekel Rono Diwiryo, menjabat dari tahun 1958 sampai tahun 1960, karena kepemimpinannya dianggap kurang adil dan bijaksana rakyat meminta kepada Lurah Kiswodiharjo, jabatan Bekel Rono Diwiryo diberhentikan dengan tidak hormat;
  8. Bekel Sumitro Sarli, diberhentikan dengan tidak hormat karena di duga menyalahgunakan uang pajak dan hutang lumbung rakyat, menjabat sampai tahun 1966;
  9. Bekel Wongso Supiyo, merupakan bekel yang paling lama menjabat yaitu dari tahun 1967 sampai tahun 2004, dan diberhentikan dengan hormat sehingga beliau mendapatkan upah bengkok pensiunan seumur hidup;
  10. Bekel Darno, menjabat Bekel / Kadus Klego sejak tahun 2005 sampai sekarang, beliau menjabat melalui pilihan langsung oleh rakyat.

 

 

 

Sedangkan untuk jabatan Bayan yang pernah ada di Dusun Klego, secara berurutan dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Bayan Sarkam, pada tahun 1941 naik jabatan menjadi Bekel;
  2. Bayan Karto Sarman, pada tahun 1949 naik jabatan menjadi Bekel;
  3. Bayan Kromo Sali,  karena menyesuaikan Undang – Undang No 5 Tahun 1979 tentang Restrukturisasi Jabatan Perangkat Desa, Bayan Kromosali diangkat menjadi Kaur Pembangunan pada tahun 1988 dan diberhentikan dengan hormat oleh Kepala Desa Parakan pada tahun 2007, menjabat selama 36 tahun sehingga mendapat upah Pensiun seumur hidup;
  4. Bayan Suyoto, dilantik pada Januari 2010 melalui ujian tertulis yang telah dilaksanakan oleh pemerintah Desa Parakan, sesuai PP No 72 tahun 2005 yang mengatur tentang Desa, jabatan Bayan disesuaikan dengan SOTK yang baru, Bayan Suyoto memangku jabatan sebagai Kepala Urusan Pembangunan.

 

Untuk  Jabatan Tata Kepemerintahan yang ada di Desa Parakan, yang membidangi Unsur Pelaksana Lapangan dari awal sampai sekarang secara berurutan dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Modin Kasan, purna tugas secara terhormat pada tahun 1964;
  2. Modin Merto Mongin, purna karena meninggal dunia pada tahun 1974;
  3. Modin Nasirun, karena menyesuaikan Undang – Undang No 5 Tahun 1979 tentang Restrukturisasi Jabatan Perangkat Desa, Modin Nasirun diangkat menjadi Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat  pada tahun 1988, dan mempunyai masa kerja selama 27 tahun,  dipensiun pada tahun 2005 serta mendapat upah pensiun seumur hidup;
  4. Modin Burhanudin, diangkat dan dipercaya memangku jabatan Unsur Pelaksana Modin Desa Parakan berdasarkan Undang-Undang No. 32 tahun 2004 dan PP 72 Tentang Desa yang mengatur pengisian Perangkat Desa melalui Ujian tertulis. Resmi memangku jabatan  Modin pada Januari 2010 dengan tugas mengurusi kepentingan rakyat dalam bidang Keagamaan.

 

 

 

Sesuai Undang – Undang No 32 tahun 2004 dan PP No. 72 Tahun 2005 Tentang Desa, mulai tahun 2010 di jajaran Pemerintahan Desa Parakan ditambah satu jabatan baru yaitu Unsur Pelaksana Teknis Lapangan Jogoboyo yang mempunyai tugas dalam bidang keamanan dan ketertiban  masyarakat.

Jabatan tersebut dipercayakan kepada Bayan Suwolo dan efektif menjabat sejak Januari 2010.

Demikian Legenda Desa ini dibuat semata-mata hanya untuk menambah Khasanah kebudayaan yang ada di Parakan tanpa ada unsur untuk sengaja menonjolkan kebaikan  maupun keburukan  pemimpin terdahulu, dengan harapan semoga bermanfa`at dan permohonan ma`af apabila dalam penulisan Legenda Desa ini kurang berkenan.

( Dirangkum dan ditulis oleh : Darmoyo, dengan Nara Sumber : Bapak Somo Saleh Parakan, Bapak Parto Supiyo (Putra Bekel Karto Sawiyo Bentak), Bapak Sutiyar Klego, dan Dokumentasi Desa Parakan serta Legenda Rakyat ). Parakan, medio Akhir Oktober 2014.